Home Daerah Dalam Sidang Lanjutan Oknum Lapas Bangkinang,Jelas Saksi Melihat Ada Memar Di Tangan Dan Kaki Korban
Daerah - 2 hari ago

Dalam Sidang Lanjutan Oknum Lapas Bangkinang,Jelas Saksi Melihat Ada Memar Di Tangan Dan Kaki Korban

Print

Kampar-Riau | mapikor-news.com — Sidang lanjutan tindak pidana kekerasan rumah tangga (KDRT) dan Penelantaran oknum lapas Bangkinang AG,digelar secara virtual dengan agenda mendengar keterangan saksi,Selasa (14/9/21).

Sidang yang di gelar di ruangan cakra Pengadilan Negeri Bangkinang kelas 1B itu menghadirkan dua orang saksi dari jaksa penuntut umum. 

Menjawab pertanyaan Jaksa,Saksi Sri Rahayu yang merupakan adik kandung korban UN menerangkan,korban menghubunginya dan mengatakan bahwa dirinya bertengkar dengan suaminya,dari pertengkaran itu,korban mengalami tindak kekerasan dipukul oleh suaminya.Dari pengakuan saksi,ia melihat ada memar di tangan dan kaki korban. 

“Saya jumpa dengan kakak saya pada hari jumat magrib, usai kakak saya melakukan visum, saya melihat ada memar di tangan dan kaki kakak saya, “ungkap saksi menjawab pertanyaan Jaksa. 

Saksi mengatakan sakit di tangan dan kakinya, dirasakan oleh korban sekitar satu minggu lebih dan tidak bisa beraktifitas seperti biasanya.

Berdasarkan pengakuan Sri Rahayui, sebelum kejadian pemukulan itu terjadi ia pernah melihat pertengkaran kakaknya dengan terdakwa. Ia mengatakan kejadian itu terjadi saat saksi berkunjung ke rumah kakaknya. “Mereka bertengkar, dan kakak saya hampir di pukul oleh terdakwa, namun cepat dilerai  oleh suami saya, “ungkapnya. 

Saksi menerangkan bahwa kejadian pemukulan yang dilakukan oleh terdakwa kepada korban terjadi ketika korban pulang dari bank BRI Bangkinang yang menanyakan ATM  terdakwa yang dipegang oleh korban di blokir, dan korban juga mempertanyakan peminjaman di bank BRI Bangkinang yang dilakukan oleh terdakwa tanpa sepengetahuan korban. 

Jaksa menanyakan apakah terdakwa menafkahi korban,saksi menjawab korban sebelum menikah dengan terdakwa telah memiliki tiga orang anak,namun semenjak menikah dengan terdakwa,anak-anak korban tinggal dengan saksi, dan tidak pernah dinafkahi oleh terdakwa.Begitu juga dengan korban, “untuk kebutuhan di rumah,kakak saya yang menanggulangi sampai listrikpun kakak saya yang bayar, ” jawab Sri Rahayu.

“Terkait usaha yang dimiliki oleh korban, saksi mengatakan, usaha gas elpiji sudah ada sebelum menikah dengan terdakwa, kemudian juga ada salon kencantikan, toko pakaian, rental mobil milik korban yang semuanya modalnya tidak berasal dari terdakwa.

Kemudian jaksa menunjukan buku nikah korban dengan terdakwa.  saksi membenarkan bahwa buku nikah yang di tunjukkan oleh jaksa adalah buku nikah antara korban dengan terdakwa.

“Waktu pernikahan itu status di buku nikah itu janda, bukan perawan, karena kan dia (korban) sudah punya anak tiga. ”kakak saya janda beranak tiga, dan sebelum nikah itu, akta cerainya sudah diberikan kepada KUA, kalau tidak, buku nikahnya tidak bisa dikeluarkan” kata Sri Rahayu menjelaskan.

Jaksa menanyakan apa penyebab antara terdakwa dengan korban sering terjadi pertengkaran. “Masalah keuangan dan keluarga” jawab Sri Rahayu.

“Masalah keuangan, kakak saya tidak pernah di kasi uang belanja, juga kebutuhan anaknya, terdakwa tidak mau membantu. Keluarganya (keluarga terdakwa) terutama mamanya tidak mau menerima kalau anaknya menikahi janda”.

“Ada satu kejadian waktu lebaran, kami disana (dirumah korban) kebetulan mamanya terdakwa mau datang dari kampung, kebetukan kami semua ngumpul di rumah itu termasuk anak-anak kakak saya, kami semua diungsikan dirumah tante saya yang kebetulan tidak jauh dari situ karena takut ketahuan kalau kakak saya sudah punya anak, “jawab saksi Sri Rahayu.

Usai JPU memberikan pertanyaan. Kuasa hukum terdakwa Syafardi Amtmaja, S.H.,M.H mengawali pertanyaannya tentang status PNS dari korban. Dan juga ia menanyakan lama korban bekerja sebagai PNS.

“Sebelum menikah dengan terdakwa, kakak saya sudah PNS, sampai tahun 2015 masih berstatus PNS, “jawab saksi.

Kemudian kuasa hukum terdakwa menanyakan posisi saksi pada saat kejadian. “saya berada di pasir pengaraian, sementara kakak saya berada dibangkinang, saya taunya setelah kakak saya menelepon saya menggunakan video call, “jawab Sri Rahayu.

“Mohon dicatat majelis, bahwa pada saat kejadian, saudara saksi tidak ada di tempat kejadian perkara”, pinta kuasa hukum kepada majelis hakim usai mendengar keterangan saksi Sri Rahayu.

Saat ditanya kuasa hukum mengenai pemberian nafkah oleh terdakwa kepada korban, saksi menjawab sepengetahuannya dari cerita korban kepadanya selama menikah,terdakwa tidak pernah memberi nafkah secara materi, karena semua kebutuhan kakak saya yang tanggulangi.

Mengenai besaran gaji yang diterima oleh terdakwa,yang ditanyakan oleh kuasa hukum terdakwa,ia mengatakan sekitar Rp. 6.000.000. ” Nilai itu saya asumsikan berdasarkan golongannya,karena suami saya juga PNS dan seluruh gaji nya diserahkan ke saya, “jawab saksi.

Mengenai izin perceraian yang diajukan oleh terdakwa,kuasa hukum AG,Syafardi menayakan kepada saksi bahwa terdakwa pernah mengajukan izin perceraian di Tahun 2019. 

“Sepengetahuan saya belum masuk kepengadilan, tidak diberi izin oleh atasanya, karena alasanya tidak ada yang tepat,dia bilang selama menikah dia tidak punya anak,itu alasan yang saya ingat, “kata Sri Rahayu.

Saat ditanya apakah korban mau bercerai dengan terdakwa,saksi menjawab,bersedia apabila terdakwa memenuhi syarat yang diberikan korban kepada terdakwa.

Hakim menanyakan kepada saksi kapan melihat foto yang di tunjukkan jaksa (foto lebam pada kaki korban). Kemudian saksi menjawab kalau melihat foto, saat di BAP di Polda, tetapi kalau melihat langsung dua hari setelah kejadian.

“Saya melihat tangannya, kakinya lebam merah kebiru biruan” jawab Sri Rahayu.

Terdakwa yang diberi kesempatan oleh hakim, menyatakan keberatan terhadap keterangan saksi.

“Mengenai buku nikah,waktu kami menikah akta cerai tidak ada diberikan keluarga korban, yang kedua saat menikah, keluarga saya dipaksa untuk menikah di ujung batu (acara pernikahan di laksanakan di ujung batu).Mengenai PNS, awalnya dia bercerita PNS di Rokan Hulu, selama pernikahan berjalan dua tahun, baru ketahuan dia tidak PNS.Kemudian waktu keluarganya datang kebangkinang pas libur, dan minta makan diluar, “ujar terdakwa menyampaikan keberatannya kepada hakim. 

Setelah mendengar keberatan dari terdakwa, hakim menskor sidang karena waktu menunjukkan istirahat makan siang. 

Usai istirahat makan siang,Sidang pemeriksaan saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum dilanjutkan kembali.Kali ini menghadirkan Sargiantono yang merupakan sopir korban.

Saksi menerangkan kronologis perkara tindak kekerasan yang dialami korban UN.

“Sebelum kejadian itu,saya mengantarkan korban bersama pengacaranya ke bank BRI, pulang dari bank BRI kami hendak menuju polres, di jalan korban melihat suaminya di rumah makan Nirwana,kemudian korban meminta diturunkan di rumah makan Nirwana. saya bersama pengacara lanjut menuju polres kampar, “kata saksi.

Sesampai di polres sambung saksi,ia ditelpon oleh korban,sambil menanngis mengatakan bahwa dia dipukul oleh suaminya. “Kemudian saya balik lagi ke rumah makan Nirwana, sesampai disana dia menunjukkan bekas dipukul dan terlihat agak memerah, “terang saksi.

Kepada saksi, jaksa menanyakan apabila korban hendak keluar kota,diberi izin oleh terdakwa. Saksi menjawab bahwa pada saat korban akan pergi, terdakwa sering meminta membelikan barang melalui saksi,seperti alat-alat mobil.

“Bang nanti belikan alat mobil, terus saya tanya, uangnya mana ? Ada sama UN tu jawabnya kepada saya, “kata Saksi.

Kepada saksi korban UN pernah mengeluhkan masalah ekonomi kepada dirinya,dimana terdakwa AG tidak mau membantu korban.

Berdasarkan pengakuan saksi bahwa ia telah bekerja menjadi supir UN dari tahun 2015, kemudian kuasa hukum terdakwa menanyakan kepadanya usaha yang dilakukan oleh korban.

Saksi menjawab Untuk usaha elpiji, sudah ada sebelum dia bekerja dengan UN,sedangkan salon dan toko pakaian baru ada setelah bekerja dengan UN, “jawab Sargiantono.

Kuasa hukum terdakwa syafardi Atmaja menanyakan kepada saksi,dengan usaha yang ditekuni oleh korban saat sekarang ini apakah cukup memenuhi kebutuhannya. “Cukup” kata Sargiantono mejawab pertanyaan kuasa hukum terdakwa.

Seperti yang diajukan kepada saksi Sri Rahayu, Syafardi menanayakan keberadaan Sargiantono saat terjadi pemukulan yang dilakukan oleh terdakwa. 

Saksi menjawab bahwa saat kejadian dia sedang berada di polres, dan mengetahui kejadian pemukulan itu setelah di telepon oleh korban. 

Mendengar jawaban saksi Sargiantono, kuasa hukum terdakwa meminta kepada majelis hakim untuk mencatat keterangan saksi bahwa pada saat kejadian pemukulan itu saksi tidak berada di tempat kejadian. “kemudian usahanya baru ada setelah saksi bekerja dengan korban UN, berarti usahanya baru ada diatas tahun 2015, mohon dicatat majelis kata syafardi kepada majelis hakim.

Usai mendengar keterangan saksi sargiantono, mejelis hakim memberi kesempatan kepada terdakwa untuk memberi tanggapan.Dan terdakwa keberatan terhadap keterangan saksi

“Saya tidak memberi izin kepada UN untuk mempekerjakan saksi,dan tidak tau berapa gaji saksi yang diberikan oleh UN, “kata terdakwa AG kepada hakim.(Romi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sekjen LPSK Dan Sekda Pemprov Babel Tandatangani Perjanjian Pinjam Pakai Kantor Penghubung LPSK Perwakilan Babel

Pangkal Pinang-Babel | mapikor-news.com – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPS…