Home / Daerah / PANJUL KLAIM SEBAGAI KORBAN “PADEPOKAN” FIRMAN & ALOY

PANJUL KLAIM SEBAGAI KORBAN “PADEPOKAN” FIRMAN & ALOY

Print

PANJUL KLAIM SEBAGAI KORBAN “PADEPOKAN” FIRMAN & ALOY

PANGKALPINANG – www.mapikor-news.com

Otak utama pelaku korupsi kredit modal kerja (KMK) BRI Pangkalpinang, kian menganga lebar di muka persidangan Pengadilan Tipikor Kota Pangkalpinang. Nama Firman alias Asak dan Sugianto als Aloy makin berkibar. Ini disebut oleh salah satu dari 47 debitur sekaligus saksi yakni Franskly Cipto als Panjul yang bersaksi untuk terdakwa : Aloy, Handoyo dan Redinal.

Di muka sidang yang diketuai hakim Efendi kemarin siang hingga jelas bakda Ashar Panjul sendiri awalnya mengaku mengenal baik seorang Asak. Bahkan baginya sudah dianggap sebagai keluarga. Hingga akhirnya sekitar bulan Januari di tahun 2018 lalu Panjul mengaku ingin membuka usaha tambang inkonvensional atau TI, namun butuh modal sebesar Rp 50 juta.

“Saya sampaikan ini kepada Asak. Saya juga sempat mau meminjam uang sebesar Rp 50 juta kepada Asak,” katanya.

Asak juga dalam kesempatan tersebut mengaku juga butuh modal sebesar Rp 2 milyar untuk bisnis sawit dan tambang. Asak saat itu juga mengaku kepada Panjul ada jalan potensial untuk jalan keluar ini semua. Tak lain adalah meminjam uang kepada perbankan yakni BRI.

Bahkan kesempatan tersebut disampaikan oleh Asak, kalau dia memiliki aset atau jaminan berupa tanah. Pokoknya si Panjul cukup ditebeng KTP dan KK saja untuk formalitas.

“Pokoknya soal agunan dan berkas-berkas segalanya saya terima beres saja. Tapi saya sendiri tak tahu soal agunan itu punyanya Asak atau bukan. Akhirnya karena merasa sudah seperti keluarga saya, percaya begitu saja kepada Asak,” ujarnya.

Gayung pun bersambut. Atas kepercayaan penuh tersebut, kata Panjul, dirinya mengikuti setiap petunjuk-petunjuk Asak. Seperti datang ke kantor Aloy untuk menandatangani berkas-berkas.

“Memang banyak berkas-berkas yang saya tandatangani di sana. Tapi saya tak tahu berkas-berkas apa saja,” sebutnya.

Hingga akhirnya di bulan Februari 2018 Panjul ditelpon oleh pihak BRI. Namun klaimnya, pihak BRI tidak memberitahukan soal pencairan saat itu. Hingga akhirnya dirinya juga mendatangi langsung kantor BRI. Lalu di sanalah usai penandatanganan berkas memperoleh sebuah cek.

“Saya hanya disuruh datang saja oleh orang BRI katanya untuk tandatangan berkas. Saya tandatangan saja, gak dikasih tahu berapa cairnya dari BRI,” sebutnya.

Cek tersebut lalu diserahkanya kepada Firman. Rupanya oleh Asak mengakunya kepada Panjul kalau pengajuanya adalah Rp 2 milyar namun pencairanya adalah Rp 1,5 milyar. Selanjutnya oleh Asak, cek tersebut diserahkan kepada Aloy, untuk dicairkan ke Bank.

Atas adanya pencairan itu, si Panjul akui ingin untuk mendapat bagianya yakni Rp 70 juta untuk modal usaha tambang. Namun ternyata tak semudah itu, baru sekitar 2 minggu kemudian baru bisa diterimanya dari Asak.

“Itupun uang tersebut adalah berupa peminjaman saya kepada Asak. Saya miliki surat perjanjiannya yang ditandatangani oleh saya dan Asak dan disaksikan Iwan (kakaknya Asak) dan Servia (istrinya Asak),” ungkapnya.

Akhirnya peminjaman uang kepada Asak tersebut akunya, sekitar 2 bulan kemudian berhasil dilunasinya.

Lantas bagaimana dengan pembayaran kredit di BRI itu. Menurutnya kredit tersebut hingga lebih dari setahun tak ada masalah. Baginya soal kredit itu walau atas nama dirinya namun tanggung jawab soal pembayaran kredit adalah si Asak.

“Hampir 2 tahun saya merasa tak ada masalah soal kredit atas nama saya itu. Buktinya saya tidak pernah sama sekali ditelpon pihak BRI,” ucapnya.

Hingga akhirnya petaka pun datang. Suatu saat dirinya ditelepon pihak BRI yang mengatakan kalau kredit atas nama Panjul itu macet. Agar segera dilunasi dan menjadi tanggung jawab Panjul.

“Baru saya tahu kalau ternyata kredit atas nama saya itu macet,” ucapnya lirih.

Atas persoalan ini lalu dirinya sempat mengkonfirmasi ke Asak. Namun anehnya, atas persoalan ini lanjutnya, akhirnya Firman sendiri tak mengaku kalau usai pencairan oleh Aloy duitnya telah diterima oleh Firman.

“Malah Firman mengaku tak menikmati duitnya. Malah menuduh Aloy,” ujarnya.
Bagi dirinya persoalan apakah Firman atau Aloy yang menikmati akunya tak tahu menahu.

“Nah kalau soal itu saya gak tahu. Yang saya tahu cek itu memang saya tandatangani atas perintah Asak. Tapi nominal di cek itu saya tak tahu siapa yang nulis,’’ ucapnya.

Akhirnya hakim pun sempat bertanya, dimana si Firman als Asak sekarang berada. Awalnya dijawab oleh Panjul gak mengerti maksud pertanyaan si hakim ketua Fendi itu. Namun setelah mengerti baru dijawabnya, “sekarang Firman sudah di sel, ditahan juga oleh jaksa.”

Sementara itu kepada harian ini, usai persidangan Panjul, mengaku gak menyangka seorang Firman yang sudah dianggap sebagai keluarga itu terkesan telah menjebaknya. Dia sendiri mengaku memang pada dasarnya tak mengerti soal seluk-beluk kredit perbankan.

“Pusing betul saya atas persoalan ini. Karena sebagai teman baik awal merasa gak mencurigai apapun, karena saya sendiri memakai uang itu cuma Rp 70 juta. Itupun berupa pinjaman dan sudah saya lunasi kepada Asak,” tukasnya.

ASAK TERANCAM MENYANDANG STATUS TERSANGKA GANDA

Firman als Asak yang disebut-sebut oleh Panjul tersebut merupakan bos CV Hayxellindo Putra Jaya. Saat ini sudah menyandang status tersangka dalam pusaran kejahatan berdasi ini. Namun status tersangka tersebut disandangnya baru sebatas tunggal yakni atas perkara pemberian serta perpanjangan fasilitas kredit modal kerja (KMK) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada Kantor Cabang Kota Pangkalpinang 2018.

Negara telah dirugikan senilai Rp 3,5 milyar.
Register perkara: PDS-05/L.9.10/Ft.1/05/2021). Asak kini telah ditahan rutan Polres Pangkalpinang dengan register tahanan nomor RT-05/L.9.10/Ft.1/SPP/05/2021. Status tersangka itu juga bersama dengan petugas account officer (AO) yakni M Redinal Airlangga.

Mereka berdua telah dijerat dengan primair pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo. pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, subsidiair pasal 3 jo. pasal 18 undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo. pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, lebih subsidiair pasal 9 jo pasal 18 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Ancaman hukuman pidana maksimal seumur hidup atau paling singkat 4 dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 milyar serta membayar uang pengganti sebesar kerugian negara.

Sementara itu di sisi lain, dari dakwaan JPU atas kluster Aloy, seorang Asak juga disebut satu padepokan dengan Aloy. Yakni yang mengkondisikan orang-orang untuk menjadi para calon nasabah guna pengajuan kredit. Lalu pencairan tersebut Asak menikmati fulusnya.

Sebagai berikut terdakwa: Redinal memperkaya diri senilai Rp 458.000.000. Memperkaya orang lain yaitu: Aloy sebesar Rp 4.473.300.000, Firman sebesar Rp 628.900.000, Edwar sebesar Rp 358.000.000. 6 debitur sebesar Rp 5.881.800.000. Total kerugian negara yaitu merugikan BRI Rp 11.800.000.000.
Edwar memperkaya diri sebesar Rp 543.000.000 dan memperkaya orang lain yaitu Aloy sebesar Rp 7.613.300.000 dan Firman sebesar Rp1.528.900.000. M. Redinal Airlangga sebesar Rp 358.000.000. 9 debitur sebesar Rp 5.871.800.000.

Sementara itu Handoyo disebutkan JPU telah memperkaya Aloy sebesar Rp 5.587.000.000 dan Firman sebesar Rp 900.000.000. Edwar sebesar Rp 185.000.000 dan 5 debitur sebesar Rp 4.123.000.000. Adapun total kerugian negara dalam hal ini keuangan BRI dari 3 AO tersebut sebesar Rp 39.400.000.000. (Rikky Fermana)

About redaksi mapikor

Check Also

Akhirnya Anggota Jula jula ” Putri Diana Jawak” Resmi Laporkan Bandarnya Ke Polisi. DELITUA | …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *