Home / Ragam / Potensi Pseudomonas sp. : Bakteri Pelarut Posfat (BPF) Sebagai Agen Hayati Untuk Biofertilizer Pada Lahan Masam

Potensi Pseudomonas sp. : Bakteri Pelarut Posfat (BPF) Sebagai Agen Hayati Untuk Biofertilizer Pada Lahan Masam

Bangko-Jambi | mapikor-news.com — Di Indonesia luas total lahan kering sekitar 148 juta Ha, diantaranya 102.80 juta Ha (69,46%) merupakan tanah masam yang didominasi oleh Inceptisol, Ultisol dan Oxisol yang sebagian besar terdapat di Sumatra, Kalimantan dan Papua.

Kendala utama produktivitas tanaman di lahan masam adalah rendahnya kesuburan tanah, terutama rendahnya ketersediaan hara fosfor (P). Ketersediaan Fosfor sangat dipengaruhi oleh pH tanah.

Pada tanah masam, sebagian besar dari P yang diberikan akan bersenyawa dalam bentuk Al-P, Fe-P dan occluded-P yang tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Jumlah P yang dapat diserap oleh tanaman hanya 10–30 %, sisanya dikonversi ke dalam bentuk senyawa yang tidak larut dan tidak tersedia di dalam tanah karena terjerap oleh mineral liat dan unsur-unsur seperti Ca, Fe dan Al dan sebagian kecil hilang melalui air perkolasi.

Keadaan demikian menyebabkan ketersediaan Fosfor bagi tanaman tidak tersedia secara bebas. Jika tanaman kekurangan fosfor maka tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal karena Fosfor (P) merupakan unsur esensial bagi tanaman yang memegang peranan penting dalam berbagai proses, seperti fotosintesis, asimilasi, respirasi, pembentukan sel pada jaringan akar dan tunas yang sedang tumbuh dan memperkuat batang.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi defisit fosfor tersebut seperti pemupukan.
Pemupukan Fosfor biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hara Fosfor tanaman, khususnya pada tanah-tanah dengan kandungan Fosfor yang rendah. Pemberian pupuk tersebut diberikan baik dalam bentuk pupuk organik hingga anorganik agar kebutuhan fosfor tersebut terpenuhi bagi tanaman.

Namun, pemberian pupuk tersebut masih mengalami kendala dan kerap kali tidak efisien. Pemupukan P dalam jumlah besar dan dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penimbunan P dalam bentuk terfiksasi di dalam tanah. Penggunaan pupuk Anorganik (kimia) secara berlebihan selain menyebabkan pencemaran tanah dan air dengan zat kimia yang terkandung pada pupuk, juga menyebabkan pencemaran zat radioaktif ke lingkungan sehingga berbahaya baik bagi tanaman itu sendiri, hewan bahkan manusia.

Salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat dalam mengatasi rendahnya fosfat tersedia dalam tanah adalah dengan memanfaatkan kelompok mikroorganisme pelarut fosfat, yaitu mikroorganisme yang dapat melarutkan fosfat tidak tersedia menjadi tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman.

Menurut Rao (1994) dalam tanah terdapat banyak bakteri yang mempunyai kemampuan melepas P dari ikatan Fe, Al, Ca dan Mg, bakteri tersebut adalah bakteri pelarut fosfat. Bakteri pelarut fosfat (BPF) adalah bakteri yang berperan dalam proses mineralisasi senyawa P. organik menjadi P. anorganik dan meningkatkan fosfat tersedia.

Bakteri pelarut fosfat diketahui mampu melarutkan P dengan melepaskan senyawa P melalui mekanisme pembentukan khelat, reaksi pertukaran, menghasilkan enzim fosfatase dan dapat mengeluarkan asam-asam organik. Asam-asam organik tersebut seperti: asam sitrat, glutamat, suksinat, tartat, format, asetat, propionat, laktonat, glikonat dan fumarat (Rao, 1994).

Asam-asam organik ini akan bereaksi dengan FePO4, yang dapat membentuk khelat (kompleks stabil) dengan kation-kation pengikat P di dalam tanah seperti Fe3+. Akibatnya dapat menurunkan reaktivitas ion-ion dan menyebabkan pelarutan yang efektif sehingga P yang terfiksasi dapat tersedia untuk tanaman.

Pengaruh mikroorganisme pelarut fosfat terhadap tanaman, tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan Fosfor sehingga dapat diserap oleh tanaman tetapi juga karena kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh (ZPT), terutama oleh mikroorganisme yang hidup pada permukaan akar.

Bakteri pelarut fosfat mampu mensekresi asam organik sehingga akan menurunkan pH tanah dan memecahkan ikatan pada beberapa bentuk senyawa fosfat untuk meningkatkan ketersediaan fosfat dalam larutan tanah.

Berdasarkan hasil penelitian Widiawati dan Suliasih (2006) menyatakan bahwa bakteri Pseudomonas dan Bacillus merupakan bakteri pelarut fosfat yang memiliki kemampuan terbesar sebagai biofertilizer dengan cara melarutkan unsur fosfat yang terikat pada unsur lain (Fe, Al, Ca, dan Mg), sehingga unsur P tersebut menjadi tersedia bagi tanaman.

Bakteri Pseudomonas sendiri memiliki karakteristik seperti, gram negatif, berbentuk batang (rods) atau kokus (coccus), aerob obligat, motil mempunyai flagel polar. Bakteri ini, oksidase positif, katalase positif, nonfermenter dan tumbuh dengan baik pada suhu 4°C atau dibawah 43°C.

Pseudomonas banyak ditemukan pada tanah, tanaman dan air. Kelompok bakteri Pseudomonas paling banyak ditemukan sebagai bakteri pelarut fosfat terbaik. Jenis Pseudomonas yang umumnya diketahui mampu melarutkan P terbaik antara lain P.fluoresces, P.psychrotolerance, P.cepaceae, P.aeruginosa dan P.oryzihabitans.

Beberapa hasil penelitian penggunaan Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) yang efektif dalam ketersediaan fosfor bagi tanaman diantaranya Pemanfaatan Bakteri Pelarut Fosfat untuk Meningkatkan Produktivitas Kudzu Tropika (Pueraria phaseoloides Benth.) mampu meningkatkan panjang tanaman,jumlah daun, berat kering tajuk, berat kering akar, kadar P tajuk, serapan N, serapan P dan produksi protein kasar tanaman kudzu tropika (Pueraria phaseoloides Benth.).

Penelitian yang dilakukan oleh Setiawati, et.al yakni Bakteri Pelarut Fosfat untuk meningkatkan ketersediaan P pada Tanaman jagung (Zea mays L.) diperoleh bahwa bakteri Pseudomonas cepacea dengan aktivitas enzim fosfatase sebesar 0,211 μM g-1 dan lembab mampu menghasilkan asam organik total sebesar 6,4 ppm sehingga potensial sebagai pupuk hayati dalam meningkatkan panjang akar tanaman, rasio berat kering tajuk akar pada tanaman jagung.

Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh Fitriatin et.al untuk mengetahui Pengaruh mikroba pelarut fosfat pada tanaman padi gogo (Oryza sativa L.) terhadap P tersedia didapatkan hasil bahwa Pseudomonas sp. mampu meningkatkan aktivitas fosfatase, konsentrasi P tajuk hingga 19,23 % dan bobot gabah kering giling (GKG) padi gogo hingga 29,03 %. Aplikasi 75 kg P2O5 ha-1 mampu meningkatkan P tersedia hingga 20,66 % dan bobot GKG hingga 15,23 %.

Pemanfaatan Bakteri Pelarut Fosfat seperti contohnya bakteri Pseudomonas diharapkan menjadi solusi untuk ketersediaan unsur P bagi tanaman dan menjadi pilihan karena lebih efektif meningkatkan efisiensi penyerapan P dan ramah lingkungan karena dapat mengurangi dosis pupuk P Anorganik. Selain itu, perbanyakannya relatif lebih cepat sehingga dapat diproduksi dan digunakan secara masal oleh pertanian.Tentunya hal tersebut memberikan banyak keuntungan bagi berbagai pihak, terutama bagi petani.
(Damsir)

Penulis : Widia Putri Febriani_Mahasiswa S2 Program Studi Biologi, Universitas Andalas
(Tugas Mata Kuliah Interaksi Mikroba dengan Tumbuhan_Dosen Pengampu; Dr. Fuji Astuti Febria)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *