Home / Opini / Prospek Pemanfaatan Metabolit Sekunder Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides) Sebagai Insektisida Nabati

Prospek Pemanfaatan Metabolit Sekunder Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides) Sebagai Insektisida Nabati

Bangko-Jambi |mapikor-news.com — Keberadaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dalam aktivitas budidaya tanaman perlu dikendalikan secara berkelanjutan dengan tujuan dapat mengurangi dampak serangannya pada tingkat yang tidak merugikan secara ekonomi. Apabila OPT tidak dikendalikan maka dapat menyebabkan terjadinya penurunan kuantitas maupun kualitas hasil tanaman pertanian.

Dalam upaya pengendalian OPT, Petani di Indonesia kerapkali menggunakan pestisida sintesis. Penggunaan pestisida sintetis secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama memiliki dampak negatif seperti keseimbangan ekologis terganggu, terjadinya pencemaran udara, tanah, air.

Pestisida sintetis dapat meninggalkan residu didalam tanah maupun tanaman, dapat menyebabkan keracunan bagi petani dan konsumen, serta matinya organisme non sasaran (musuh alami) dan terjadinya resistensi hama. Selain itu, Dikutip dari (Kardinan, 2010), penggunaan pestisida sintetis juga membutuhkan biaya yang besar mencapai 30-40 % dari total biaya produksi.

Solusi untuk menyelesaikan permaslahan tersebut, maka diperlukan Pengendalian Hama secara terpadu dan dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa menyebabkan resistensi seperti penggunaan pestisida serta efektif, efisien dan dengan biaya yang minim serta tidak menganggu keseimbangan ekosistem.

Selama ini banyak agen-agen hayati yang digunakan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman. Agen-agen hayati tersebut berupa Musuh Alami (MA) baik berupa Predator, Parasitoid, maupun Patogen (Bakteri, Jamur dan Virus).

Namun, saat ini pemanfaatan metabolit sekunder tanaman menjadi salah satu alternatif pilihan yang menjanjikan. Metabolisme sekunder tanaman telah diteliti selama beberapa dekade sebagai fenomena yang dinamis dan ekonomis.

Metabolit sekunder merupakan senyawa yang dihasilkan atau disintesis pada sel tertentu pada tingkat pertumbuhan atau stress tertentu . Senyawa ini diproduksi hanya dalam jumlah sedikit dan tidak terus-menerus untuk mempertahankan diri dari habitatnya dan tidak berperan penting dalam proses metabolisme utama (primer).

Senyawa metabolit sekunder dapat diekstraksi langsung dan disintesis untuk mendapatkan senyawa kimia atau turunannya.
Pada tanaman, senyawa metabolit sekunder memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai atraktan (menarik serangga penyerbuk), melindungi dari stres lingkungan, pelindung dari serangan hama/penyakit (phytoaleksin), pelindung terhadap sinar ultraviolet, sebagai zat pengatur tumbuh untuk bersaing dengan tanaman lain (alelopati) dan dan bahan aktif terhadap serangga (hormon serangga, feromon, antifidan, repelen,atraktan, dan insektisida).

Senyawa metabolit sekunder memiliki struktur yang lebih komplek dan sulit disintesis, jarang dijumpai di pasaran karena masih sedikit (15%) yang telah berhasil diisolasi sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi. Senyawa metabolit sekunder diproduksi melalui jalur di luar biosintesis karbohidrat dan protein.

Ada tiga jalur utama untuk pembentukan metabolit sekunder, yaitu: (a) Jalur asam malonat.
(b) Jalur asam mevalonat.
(c) Jalur asam sikhimat.
Berdasarkan prinsip tersebut, telah dilakukan strategi pengembangan budidaya untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi (hasil) tanaman serta terhindar dari OPT, seperti melalui metabolit sekunder.

Beberapa jenis tanaman teridentifikasi memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder dapat digunakan sebagai Insektisida nabati. Insektisida nabati merupakan pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah, selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai bentuk (misalnya bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin) yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan.

Di Indonesia sendiri terdapat keragaman flora yang sangat besar. Dimana lebih dari 400 ribu jenis tumbuhan telah teridentifikasi bahan kimianya dan 10 ribu di antaranya mengandung metabolit sekunder yang potensial sebagai bahan baku insektisida nabati.
Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan metabolit sekundernya dalam pengendalian hama secara terpadu yakni Gulma. Dahulu Gulma menjadi ancaman karena selain kompetisi unsur hara dari dalam tanah, gulma juga bisa jadi rumah sekunder beberapa jenis hama. Namun, beberapa dari jenis tanaman yang biasa dianggap gulma malah bisa membasmi hama.

Berdasarkan hasil beberapa penelitian dilaporkan bahwa gulma memiliki senyawa penghambat (alelopati) yang dapat menjadi racun bagi hama,nematoda, rayap, bakteri, jamur dan gulma lainnya yang dapat merugikan petani. Senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, terpenoid, tanin, alkaloid, steroid, poliasetilena, dan minyak esensial pada gulma telah dilaporkan memiliki aktivitas alelopati (Junaedi et al.,2006).

Mekanisme kerja senyawa alelopati antara lain berkaitan dengan sintesis asam amino (sintesis glutamina, aspartat amino transferase), sintesis pigmen (sintesis asam livulenat (ALA)), fungsi plasma membran (H+-ATPase, NADH oksidase), fotosintesis (CF1 ATPase), sintesis lipid (Asetil-CoAtransiklase,3-oksoasil-ACPsintese, seramida sintase), dan sintesa asam nukleat (RNA polymerase, adenosil suksinat sintase, AMP deaminase, isoleusil-t-RNA sintase).

Beberapa mekanisme tersebut tidak ditemui dalam mekanisme kerja pestisida sintetis,karena itu senyawa alelopati pada gulma sangat memiliki prospek untuk dimanfaatkan sebagai Insektisida nabati.
Salah satu contoh Gulma seperti Rumput babadotan (Ageratum conyzoides Linn.). Tumbuhan bandotan, atau babadotan, tidak asing bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkampungan. Nama bandotan atau babadotan itu merujuk pada bau tak sedap yang dikeluarkan daunnya ketika sudah layu dan membusuk, menyerupai bau kambing.

Rumput babadotan (Ageratum conyzoides Linn.) kerap kali dianggap gulma, namun ternyata rumput gulma satu ini bisa dijadikan bahan untuk membuat insektisida nabati.
Metabolit sekunder yang terkandung dalam babadotan adalah saponin, flavanoid, polifenol, kumarine, eugenol 5%, hidrogen sianida (HCN), dan minyak atsiri.

Babadotan sebagai pestisida nabati dilaporkan khusus untuk serangga hama, bioaktif yang terkandung didalamnya bersifat “menolak” (repellent) dan menghambat perkembangan serangga.

Daun babadotan dapat berfungsi sebagai repellent (penolak) pada serangga karena memiliki aroma menyengat dan kandungan minyak atsiri yang berguna untuk menggempur hama. Selain itu, daun babadotan juga mengandung “zat antifeedant” yang disebabkan oleh adanya kandungan minyak atsiri yang menyebabkan nafsu makan serangga berkurang. Saponin yang ada pada daun babadotan juga tidak disukai oleh serangga karena rasanya yang pahit.

Dari beberapa hasil penelitian, diketahui bandotan dapat digunakan sebagai bahan insektisida nabati. Ekstrak gulma babadotan (Ageratum conyzoides) yang paling besar menekan populasi nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) dalam 300 gr tanah sebesar 97,4%. Senyawa tanin mampu melarutkan protein dalam kulit telur nematoda sehingga menyebabkan gagalnya pembentukan embrio, penetasan telur akibat rusaknya protein selubung telur terutama pada telur fase awal yang belum terbentuk larva nematoda.

Penelitian lainnya didapatkan bahwa perlakuan konsentrasi ekstrak tepung daun babadotan 100 g/l air merupakan konsentrasi terbaik dalam mematikan hama kepik hijau sebesar 72.50 %. Hal ini disebabkan semakin tinggi konsentrasi perlakuan ekstrak tepung daun babadotan maka kandungan bahan aktif senyawa precocene juga semakin tinggi, sehingga menyebabkan mortalitas total kepik hijau semakin besar.
Senyawa Precocene I dan II dikenal sebagai senyawa anti hormon juvenil, yaitu hormon yang diperlukan serangga selama metamorfosis dan reproduksi.

Precocene akan menjadi reaktif dan menyebabkan terjadinya alkilasi protein dan kematian sel. Sel-sel yang mengalami kematian pertama adalah sel kelenjar corpora allata yang menghasilkan hormon juvenil. Pemberian senyawa Precocene akan menyebabkan titer hormon juvenil sehingga menyebabkan terjadinya metamorfosis dini, dewasa steril, diapause, dan terganggunya produksi feromon pada serangga hama. Pestisida nabati ini bekerja sebagai racun kontak dan racun perut.

Selanjutnya senyawa Precocene bekerja sebagai racun saraf, yaitu dengan cara menghambat kerja enzim kholinesterase. Enzim kholinesterase terhambat kerjanya karena senyawa precocene mengikat enzim kholinesterase yang berperan untuk menghidrolisis asetil kolin, sehingga asetil kolin tidak dapat melakukan fungsinya untuk menghantarkan rangsangan ke impuls saraf, sehingga mengakibatkan tergangunya aktifitas kepik.

Terganggunya aktifitas kepik secara perlahan-lahan mengakibatkan kematian.
Pemanfaatan Metabolit Sekunder yang berasal dari Gulma memiliki potensi yang menjanjikan. Hal tersebut karena Gulma seperti babadotan mudah didapatkan sehingga biaya yang dikeluarkan relatif terjangkau, tidak merusak lingkungan, serta aman. Namun, dalam aplikasinya, pemilihan jenis gulma yang akan digunakan harus memperhatikan jenis organisme pengganggu tanaman yang akan menjadi target, sehingga dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan.

Pengembangan pestisida nabati di Indonesia masih sangat terbuka seiring dengan kebutuhan masyarakat akan produk pertanian yang sehat (bebas residu pestisida sintetik). Jika tidak dapat menggantikan peran pestisida sintetik sepenuhnya, paling tidak pestisida nabati dapat berperan mengurangi penggunaan pestisida sintetik dan menjadi alternatif dalam pengendalian hama di Indonesia.(Damsir)

Penulis : Widia Putri Febriani. Mahasiswa Pascasarjana Biologi UNAND.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *