Home » Daerah » TEDDYANUS ROZARIUS DIREKTUR UTAMA PT. PATRA DRILLING CONTRAKTOR (PDC) “BUNGKAM”

TEDDYANUS ROZARIUS DIREKTUR UTAMA PT. PATRA DRILLING CONTRAKTOR (PDC) “BUNGKAM”

240 views

TEDDYANUS ROZARIUS DIREKTUR UTAMA PT. PATRA DRILLING CONTRAKTOR (PDC) “BUNGKAM”

DIDUGA RUGIKAN NEGARA RP.30.580.000.000.-

Jakarta | www.mapikor-news.com

Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan PT. Patra Drilling Contraktor (PDC) Diduga kuat telah Direkayasa serta Terindikasi Rugikan Negara puluhan milliar rupiah, oleh oknum petinggi yang ada pada perusahaan tersebut, hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan keuangan PT. Patra Drilling Contraktor Tahun 2019, terdapat Pembayaran hutang kepada Pemegang Saham PT. Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI) sebesar Rp.46.643.000.000.- sementara dari Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan PT. Pertamina Drilling Service Indonesia tahun 2019, tidak tercantum penerimaan pembayaran hutang dari anak perusahaan atau PT. PDC, tersebut, sehingga dari hasil telah laporan hasil pemeriksaan keuangan PT. Patra Drilling Contraktor adanya selisih Penyimpangan Diduga telah terjadi Tindak Pidana Korupsi sebesar Rp.30.580.000.000.-

Baik melalui surat konfirmasi untuk meminta klarifikasi maupun melalui publikasi pada mapikor TV terkait indikasi kerugian Negara puluhan milliar rupiah di PT. Patra Drilling Contraktor, akan tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan dari Direktur Utama maupun jajaran Direksi perusahaan tersebut, bahkan redaksi telah mengirim publikasi terkait pemberitaan Mapikor TV, melalui email perusahaan tersebut, akan tetapi para petinggi salah satu cucu perushaan dari PT. Pertamina (Persero) hanya Bungkam.    

Sebagaimana dengan yang telah diberitakan sebelumnya bahwa telah terjadi selisih Penyimpangan laporan keuangantahun 2018 sebesarRp. 178.000.000,- dan selisih Penyimpangan laporan keuangan tahun 2019 sebesarRp. 85.000.000,- Berikut ini redaksi kembali jabarkan Hasil Temuan Rekayasa Laporan Keuangan PT. Patra Drilling Compani sesuai laporan yang diterima adalah sebagai berikut ;

Selisih penyimpangan laporan keuangan tersebut terletak pada:

  1. Untuk tahun 2018 terletak pada Efek perubahan nilai kurs pada kas dan setara kas sebesar Rp.178.000.000,- Selisih ini dikarenakan pada catatan laporan keuangan ataupun pada penyajian laporan laba rugi tidak terdapat penjelasan atau Beban Biaya atas Selisih Kurs sebesar tersebut, sehingga Efek Perubahan Nilai Kurs ini bersifat tunggal dan terindikasi untuk mengurangi saldo akhir kas dan setara kas.
  2. Untuktahun 2019 selisih penyimpangan laporan keuangan terletak pada :
  3. Efek perubahan nilai kurs sebesar Rp. 86.000.000,- selisih penyimpangan laporan keuangan ini sama dengan yang disajikan untuk tahun 2018 yaitu hanya disajikan untuk mengurangi saldo akhir kas dan setara kas sedangkan untuk beban biaya atas  kerugian ini tidak disajikan pada laporan laba rugi.
  4. Selisih perhitungan beban penyusutan dan amortisasi sebesar Rp. 1.000.000,- beban penyusutan dan amortisasi yang disajikan pada catatan 19 laporan keuangan Untuk tahun 2019 lebih besar bila dibandingkan dengan mutasi akumulasi penyusutan asset tetap dan mutasi aku mulasi pada asset Properti Investasi atau dengan kata lain beban biaya penyusutan dana amortisasi yang disajikan pada laporan laba rugi lebih besar dari pada yang seharusnya, selisih ini terindikasikan untuk menaikkan Nilai Buku.

Selisih Penyimpangan Laporan Keuangan yang lain yaitu sebesar Rp. 30.580.000.000,- terletak pada :

  1. Selisih Penambahan Aset Tetap sebesarRp. 9.937.000.000,-

Selisih ini disebabkan terjadi perbedaan antara Pengeluaran Kas dengan Nilai Aset yang diperolehnya itu, Pada Laporan Arus pengeluaran kas untuk Penambahan Aset Tetap sebesar Rp.21.834.000.000,- sedangkan pada Daftar Aset Tetap (catatan 9 laporankeuangan) penambahan asset tetap sebesar Rp. 11.897.000.000,- sehingga dalam hal ini terjadi kelebihan pengeluaran kas sebesar Rp. 9.937.000.000,-

  • Selisih Pembayaran Pinjaman Jangka Pendek Kepada Pemegang Saham sebesar Rp.20.643.000.000,- Pada Laporan Keuangan 31 Desember 2018 saldo utang jangka pendek kepada Pemegang Saham adalah sebesar Rp. 26.000.000.000,- pada Laporan Arus tahun 2019 terdapat Pembayaran Pinjaman Kepada Pemegang Saham sebesar Rp. 46.643.000.000,- sehingga terjadi kelebihan Pembayaran Pinjaman Kepada Pemegang Saham sebesar Rp.20.643.000.000,- disamping Kelebihan Pembayaran Pinjaman Kepada Pemegang Saham tersebut pada Laporan Arus juga terdapat Pembayaran Bunga Pinjaman Kepada Pemegang Saham yaitu sebesar Rp.1.993.000.000,-

Dengan demikian selisih penyimpangan dari transaksi adalah sebesar Rp. 30.580.000.000,-yaitu dari Selisih Perolehan Aset Tetap ditambah dengan Selisih Pembayaran Utang Kepada Pemegang Saham, terkait dengan Pinjaman Kepada Pemegang Saham dan sebagaimana informasi yang disajikan pada catatan 17 laporan keuangan bahwa Pemegang Saham PT. Patra Drilling Contractor adalah PT.Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dan PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).

Pada catatan 22.e Laporan Keuangan Pinjaman Kepada Pemegang Saham dijelaskan bahwa Pinjaman Kepada PT. PDSI atau Induk Perusahaan sebesar Rp. 26.000.000.000,- pada Laporan Keuangan PT. PDSI tidak terdapat Pengakuan Tagihan atau Piutang Kepada Anak Perusahaan, dengan demikian Pernyataan atau Pengakuan Pinjaman Jangka Pendek Kepada Pemegang Saham yang disajikan oleh PT. Patra Drilling Contractor,  adalah kepada siapa, dan Pembayaran Bunga Pinjaman Utang Kepada Pemegang Saham sebesar Rp. 1.993.000.000,- dibayarkan kepada siapa, yang pasti bahwa semua itu hanyalah rekayasa yang dilakukan oleh oknum oknum di perusahaan tersebut untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, sehingga mengakibatkan Kerugian Negara Puluhan Miliar rupiah. (Tim Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *