03 Juni 2020 | Dilihat: 841 Kali
Novel Bawedan Pimpin Langsung Penangkapan DPO Mantan Sekjen MA Nurhadi
noeh21

Novel Baswedan Pimpin Langsung Penangakap DPO Mantan Sekjen MA Nurhadi
 
 
Jakarta || www.mapikor-news.com – Petugas KPK rupanya butuh waktu tak sedikit saat detik-detik penangkapan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi, di sebuah rumah di kawasan Simpruk, Jakarta Selatan.
 
Mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, mengungkap informasi seputar penangkapan Nurhadi melalui akun Twitternya, Selasa (2/6/2020).
 
“Pintu gerbang dan rumahpun terpaksa dibongkar, karena sejak diketuk jam 21.30 tidak dibuka juga.” ujarnya.
 
“Penyidik KPK,atas dasar Informasi yang didapat dan ditemani RT sukses geledah rumah DPO KPK di Simpruk yang gelap gulita itu, ditemukan 2 DPO juga satu orang  lain yang selalu mangkir jika dipanggil KPK,” kata Bambang.
 
Operasi penangkapan, ungkap Bambang, dipimpin penyidik senior Novel Baswedan.
 
“Novel Baswedan pimpin sendiri operasi & berhasil bekuk buronan KPK, Nurhadi mantan Sekjen MA di Simpruk yang sudah lebih dari 100 hari DPO.” ungkapnya.
 
Eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi, ditangkap KPK bersama menantunya, Rezky Herbiyono, di sebuah rumah kawasan Simpruk, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2020) malam.
 
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengatakan usai maghrib hari itu ia diminta Satgas Penyidik untuk ke kantor. Mereka, kata Nawawi, memintanya berdiskusi soal rencana penangkapan Nurhadi.
 
“Terimakasih dan penghargaan kepada rekan-rekan penyidik dan unit terkait lainnya yang terus bekerja sampai berhasil menangkap NHD (Nurhadi) dan menantunya RH (Rezky Herbiyono),” ucap Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango.
 
Nawawi menungkapkan penangkapan ini sekaligus membuktikan bahwa KPK selama ini tidak membiarkan seorang buronan tanpa ada kejelasan.
 
“Ini membuktikan bahwa selama ini KPK terus bekerja,” ucapnya.
 
Diketahui, dalam kasus ini yakni Nurhadi; menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono (RHE) dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MT), Hiendra Soenjoto (HS) telah ditetapkan sebagai tersangka.
 
Ketiganya juga ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 13 Februari 2020 lantaran telah mangkir beberapa kali saat dipanggil untuk diperiksa.
 
Dalam kasus ini, ketiga tersangka tersebut diduga telah melakukan suap terkait pengurusan perkara yang dilakukan sekitar tahun 2015-2016 dan melakukan gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan tugas.
 
Nurhadi melalui Rezky diduga telah menerima janji dalam bentuk sembilan lembar cek dari PT MTI serta suap atau gratifikasi dengan total Rp 46 miliar untuk sebuah penanganan perkara Peninjauan Kembali (PK).
 
Selain itu, uang suap itu juga diduga untuk memenangkan HS dalam perkara perdata terkait kepemilikan saham PT MIT. (Redaksi)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan H.Ten No.47
Rawasari Jakarta Timur 13220  Jakarta Pusat
Telp. /Fax: 021 - 99999999