05 Juni 2020 | Dilihat: 224 Kali
SELEBRITIS DITENGAH PANDEMI Oleh : Marshal Umar Pratama (Aktivis Anti Korupsi)
noeh21

SELEBRITIS DITENGAH PANDEMI

Oleh : Marshal Umar Pratama (Aktivis Anti Korupsi)


Babel | www.mapikor-news.com
Memprioritaskan sesuatu yang tidak prioritas sebagai cerminan keputusan dimasa-masa krisis akan menjadi tolak ukur sebuah skala prioritas, karena niat yang baik harus melewati proses yang baik agar berdampak baik.
 Meminjam dari teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manager biasa adalah keberanian. Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima resiko apapun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan, sebab seorang pemimpin itu harus bisa memimpin orang-orang yang dipimpin agar menjadi terpimpin.

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan dan pemimpin cerdas yang bisa membuat lelucon bodoh.
Untuk sebuah perubahan dalam artian positif diperlukan pemimpin cerdas dan berani dalam kepemimpinan yang berkarakter termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi resikonya. Sedangkan pemimpin cerdas yang hanya bisa membuat lelucon bodoh akan selalu mendapatkan resiko atas kenekatan kepepetnya yang disebut terlalu berani karena merasa malu jika tak berani.

Sama halnya dengan sebuah kisah yang terjadi di negeri antah berantah, dan yang pasti bukan di Pangkalpinang, mungkin ada kemiripan dari segi isi-nya seperti serupa tapi tak sama dan mungkin sama tapi beda rupa.
 
Negeri ini memiliki seorang pemimpin yang dinamakan walikota, menurut informasi berkembang di daerahnya bahwa sang pemimpin tersebut kerap sekali melakukan hal-hal yang bodoh dengan perkataan dan tingkah laku yang terkadang mengundang canda tawa. Standarisasi berpikirnya pun dibawah standart masyarakat yang dipimpinnya : "pengakuan sebagian masyarakat kota tersebut". Jadi tak ayal bila sang pemimpinnya sering menjadi bahan lelucon warganya karena celoteh yang menggelitik hati dibuatnya.
Sering kali salah persepsi antara tugas walikota dengan tugas selebritis, dikatakan walikota tapi bertingkah seperti selebritis, dan sebaliknya bila dikatakan seperti artis tapi tidak masuk dalam kategori selebritis.
Jika kita menelisik lebih jauh kumparan kolaboratif walikota sebelumnya, tidak ada yang bertindak serta berstatemen over acting, apalagi dalam keadaan krusial seperti ini yang hanya akan menggambarkan sebuah masalah kritik sosial secara humoris ditengah-tengah diskusi masyarakat warung kopi dan sosial media.
 
Bersiul dan tersenyum menjadi tugas baru walikota pemekaran PKL(Pemimpin Keliling Lun-alun) menjadi PGK(Pemimpin Gak Kalah), mungkin karena slogan kotanya seperti itu sehingga harus banyak tersenyum bahkan beribu senyum untuk menapak kaki ke jabatan yang lebih tinggi mulai dari terbitnya fajar sampai sebelum terbenamnya matahari, kemudian dilanjutkan dengan bernyanyi ditengah gurun pasir dengan suara merdu mendayu-dayu nyaris tak terdengar sembari melambaikan tangannya ditengah kegelapan malam.

​​Kota yang dulunya cerdas, kini hilang tak berkelas dampak dari menyebarnya virus capit kepiting batu menjadi issu klaim sepihak dihadapan panggung sebelum panggung dibuka dan dimulai. Dengan gagah dan lantangnya mengambil alih sikap sang presiden kemudian bersuara keras memekikkan telinga pendengar ditengah pandemi. New Normal.. New Normal.
 
Kota yang penuh dengan kemenangan berubah secara represif menjadi kota kenangan, hilang dari nilai-nilai sejarah dan berubah menjadi kota berdasarkan selera yang tiada arah, seharusnya data menjadi dasar sebuah perubahan untuk merubah suatu peristiwa bahkan merubah dasar pemikiran yang sulit dirubah pada diri walikota bersama tim kreatif-nya yang over kreativitas. (Red/Rikky Fermana)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan H.Ten No.47
Rawasari Jakarta Timur 13220  Jakarta Pusat
Telp. /Fax: 021 - 99999999