26 April 2020 | Dilihat: 796 Kali
Partisipasi Masyarakat Kunci Sukses TTS Bebas DBD
noeh21

Partisipasi Masyarakat Kunci Sukses TTS Bebas DBD

Oleh : Christine Stefani C Tamelan
Mahasiswi Semester IV Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta 


NTT|www.mapikor-news.com
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu dari jutaan penyakit yang jika tidak ditanggapi secara serius akan menimbulkan efek yang sangat berbahaya dan bisa sampai pada kematian. 

DBD di Indonesia menjadi salah satu penyakit yang cukup serius. DBD merupakan salah satu penyakit tular vektor yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan lewat gigitan nyamuk betina Aedes aegipty.

DBD hanya menular lewat gigitan nyamuk Aedes aegipty yang terinfeksi virus baik pada pagi, siang atau sore hari secara berkali-kali karena aktivitas manusia yang padat pada waktu tersebut namun tidak menutup kemungkinan nyamuk Aedes aegipty menggigit pada malam hari sesuai dengan perubahan perilaku mengigit dari nyamuk.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Nusa Tenggara Timur, kasus DBD di kabupaten Timor Tengah Selatan pada tahun 2015 terdapat 23 kasus, tahun 2016 terdapat 85 kasus, tahun 2017 terdapat 2 kasus dan pada tahun 2018 terdapat 21 kasus. 

Beberapa kemungkinan adanya penyakit di TTS adalah kondisi iklim, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan terjadinya pertambahan penduduk
51% daerah di kabupaten Timor Tengah Selatan kurang lebih berada pada ketinggian lebih dari 500 Mdpl dengan iklim tropis yang secara tidak langsung sangat mendukung tumbuh kembang nyamuk Aedes aegypti.

Genangan air menjadi tempat yang sangat berpotensi sebagai tempat tumbuh jentik nyamuk yang nantinya akan menjadi nyamuk dewasa yang dapat menyebarkan penyakit.

Pertambahan jumlah penduduk yang seiring berjalannya waktu dapat mengurangi ruang gerak yang justru memberi ruang bagi nyamuk dalam penyebaran yang lebih bervariasi dan lebih cepat. 

Tiga permasalahan utama ini sangan menudukung habit/bionomik dari nyamuk Aedes aegypti dimana ketahanan hidup nyamuk sangat cocok di wilayah tropis seperti wilayah-wilayah di kabupaten TTS, selain itu kebiasaan menggigit pada pagi sampai sore hari  secara berulang kali (multiple bites) dan tidak menutup kemungkinan mengigit pada malam hari tergantung dari intensitas cahaya yang ada. 

Setelah menggigit perilaku istirahat atau resting placenyamuk Aedes aegypti dengan waktu 2-3 hari untuk mematangkan telurnya adalah di tempat yang lembab dan kurang terang, pada baju yang digantung, tirai atau kelambu, sedangkan di luar rumah seperti pada tanaman yang terlindung dari sinar matahari secara langsung. 

Nyamuk  akan berkembang biak di tempat yang disukai seperti di dalam tempat penampungan air, contohnya bak mandi, drum, vas bunga, dan barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Berdasarkan permasalahn yang terjadi, pemerintah telah melakukan beberapa tindakan pencegahan dan penanggulangan di kabupaten TTS yaitu dengan cara 3M plus, menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, dan lainnya, menutup rapat tempat penampungann air, mendaur ulang barang-barang bekas yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, plus menaburkan bubuk larvasida di penampungan air yang sulit dibersihkan, menanam tanaman pengusir nyamuk, memasang kelambu, dan menggunakan lotion anti-nyamuk. 

Selain itu juga dilakuakan pengasapan secara berkala dan sangat penting untuk diadakan sosialisasi mengenai bahaya DBD. Pembagian bubuk larvasida secara cuma-cuma diharapkan bisa membantu memberantas jentik nyamuk khususnya di tempat penampungan air yang susah dibersihkan.

Pemerintah juga perlu menyediakan  fasilitas posko DBD 1x24 jam yang selalu siap siaga menanggulangi pasien DBD dalam segala waktu. Yang terakhir adalah perlu dilakukan penataan daerah yang disesuaikan dengan pertambahan penduduk agar dapat menghilangkan ruang gerak untuk tumbuh kembang nyamuk.

Berdasarkan tindakan pencegahan yang sudah ada, alangkah baiknya jika dilakukan pengendalian vektor terpadu berbasis sains. Maka dari itu diperlukan program suveilans penyakit dan vektor DBD secara komprehensif dan rutin sehingga dapat digunakan sebagai informasi dalam penyusunan strategi pengendalian secara terpadu. 

Pengendalian vektor terpadu merupakan pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan keamanan, rasionalitas dan efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya. 

Kurangnya respon masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan terutama dari penyakit DBD menjadi salah satu kendala yang cukup serius. Kemungkinan terjadinya siklus 5 tahunan penyakit DBD sangat mungkin terjadi apabila tidak ditanggapi secara serius. 

Ancaman dari penyakit DBD terus terjadi tanpa mengenal batas, pengetahuan saja tidak cukup untuk melawan DBD maka dari itu, sangat dibutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dalam segala tingkatan. Edukasi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan Timor Tengah Selatan melawan DBD. 

Partisipasi masyarakat bisa diterapkan melalui berbagai sektor publik maupun swasta, pemerintah, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, dan organisasi non-pemerintah lainnya. Dari berbagai bidang dan usia, masyarakat dapat tetap berpartisipasi mencegah dan melawan DBD.

Mari bersama kita tanggapi kasus ini dengan serius kita bangun daerah kita tercinta, tidak harus dimulai dari hal besar atau tindakan dalam skala besar, cukup mulai dari ruang lingkup kecil seperti keluarga dengan pola hidup bersih dan tetap menerapkan 3M plus serta memanfaatkan dengan baik fasilitas yang ada. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan katong, sapa lai?
(Kaperwil NTT Ang)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan H.Ten No.47
Rawasari Jakarta Timur 13220  Jakarta Pusat
Telp. /Fax: 021 - 99999999