22 Mei 2020 | Dilihat: 101 Kali
Karang Taruna Desa Guntung Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Ngelikur
noeh21

Karang Taruna Desa Guntung Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Ngelikur

BANGKA TENGAH | www.mapikor-news.com

Ngelikur atau memberikan penerangan di halaman rumah dengan obor atau sejenisnya, merupakan tradisi adat budaya masyarakat Melayu khususnya di Bangka Belitung (Babel) dalam menyambut 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan. 
 

Ngelikur adalah salah satu tradisi masyarakat melayu dalam menyambut 10 hari terkahir bulan suci Ramadhan. Dimana ngelikur ini menurut ceritanya adalah memberikan penerangan di halaman rumah. 

"Karena dalam 10 malam terakhir bulan Suci Ramadhan akan ada satu malam yang mulia lebih dari malam seribu bulan yakni Lailatul Qadar, jadi pada malam itu rumah masyarakat tidak boleh sunyi dan sepi bahkan rumah tidak boleh gelap. Maka dari itu, adanya tradisi Ngelikur di masyarakat Babel," ungkap Ketua  Karang Taruna Desa Guntung, Kecamatan Koba, Bangka Tengah (Bateng) Arota Kusuma akrab disapa Bung Atta kepada awak media, Jum'at (22/5) sore.
 

Menurutnya, ada banyak cara dalam tradisi Ngelikur ini yaitu dengan cara menyalakan lampu minyak/obor kecil lampu pelita, membakar api dari batok kelapa, membuat penerangan lain sebagai wujud untuk menyambut malam Lailatul Qodar tersebut. 

Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi yang semakin maju membuat tradisi ini perlahan mulai hilang dan mulai dilupakan oleh masyarakat. Namun, tidak demikian dengan Desa Guntung melalui Karang Taruna mengajak kembali masyarakat untuk ikut melestarikan tradisi ngelikur ini. 

"Saya berharap, tradisi ngelikur ini tidak dilupakan oleh masyarakat, teknologi boleh kita terima tapi tradisi tidak boleh dilupa, kedepan saya berharap tradisi ini tetap diadakan melalu kerjasama masyarakat, Pemdes dan juga Pokdarwis karena bisa jadi setiap tahun dibulan Ramadhan Desa Guntung bisa menjadi wisata Lampu Likur," tutur Bung Atta.
 

Selain itu, melalui karang taruna dan dibantu remaja masjid Desa Guntung secara swadaya kedua organisasi tersebut kembali untuk memperkenalkan tradisi Ngelikur ini kepada masyarakat dengan membuat lampu pelita dari bambu menggunakan minyak solar karena mengingat kini sulitnya untuk mendapatkan minyak tanah, Ngelikur tidak selalu harus dengan lampu minyak lampu, penerangan listrik pun boleh tapi alangkah lebih eloknya akan terasa suasana sukacita ramadhannya dengan menggunkan lampu minyak. 

"Karena tradisi Ngelikur ini hampir hilang, kami pemuda pemudi desa Guntung sangat antusias sekali bergotong royong dalam membuat lampu likur. Harapan kedepan, meskipun kemajuan teknologi tapi tradisi Ngelikur dan adat budaya yang lain harus tetap dijaga dan tidak boleh dilupakan, untuk itu kami mohon dukungan masyarakat untuk selalu mensuport kegiatan-kegiatan karang taruna," harapnya. (Ahmat Aryandi/Andrian)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan H.Ten No.47
Rawasari Jakarta Timur 13220  Jakarta Pusat
Telp. /Fax: 021 - 99999999