14 Agustus 2020 | Dilihat: 51 Kali
Berantas Stunting Dinkes Kuningan Gelar Sosialisasi 9 Pesan Inti
noeh21

Berantas Stunting Dinkes Kuningan Gelar Sosialisasi 9 Pesan Inti
 
 
Kuningan || www.mapikor-news.com — Beberapa kecamatan di Kuningan Selatan, kompak menyatakan kesiapan menanggulangi kasus stunting, atau masalah gizi kronis. Kekompakan itu, terlihat dalam Koordinasi, Konvergensi Lintas Program dan Lintas Sektor dalam Penanggulangan Stunting, Dinas Kesehatan Kuningan Tahun 2020, Kamis (13/08). Acara terusat di Balai Desa/Kecamatan Selajambe.
 
Dalam acara, dinkes bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kuningan Hj Ika Siti Rakhmatika, sosialisasi 9 pesan inti 1000 hari pertama kehidupan (hpk) dalam menanggulangi stunting. Yaitu selama hamil, makan makanan beraneka ragam. Memeriksa kehamilan 4x selama kehamilan. Minum tablet tambah darah. Bayi yang baru lahir inisiasi menyusui dini. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
 
Kemudian, timbang berat badan bayi secara rutin setiap bulan, berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi, lanjutkan pemberian asi hingga usia 2 tahun, berikan makanan pendamping ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI.
 
Ketua Tim Penggerak PKK Kuningan, Hj Ika Siti Rakhmatika, mengingatkan, bahwa stunting disebabkan oleh asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi dalam waktu lama. “Stunting juga bisa dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal. Sehingga menghambat kemampuan mental serta kesulitan belajar,” terang istri Bupati Kuningan ini. 
 
Menurut Ika, penyebab stunting dibedakan atas dua. Yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab secara langsung stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang cukup serta ancaman infeksi berulang. Secara tidak langsung, stunting disebabkan oleh pola asuh ibu atau keluarga, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, sanitasi lingkungan, dan pelayanan kesehatan.
 
“Penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan gizi atau gizi buruk, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (hpk). Dimulai dari fase kehamilan atau 270 hari hingga anak berusia 2 tahun atau 730 hari. 1000 hpk ini merupakan fase terpenting dalam kehidupan anak, golden age, golden period, yang sangat menentukan kesehatan dan kecerdasan anak,” tandas Ika. 
 
Kurangnya pengetahuan tentang gizi dan pola asuh yang salah dapat berdampak kepada kondisi gizi ibu hamil dan anak. Misalnya karena ingin anaknya cepat besar maka seorang ibu menganggap asi saja tidak cukup. Sehingga memberikan anak susu formula. “Padahal kandungan gizi di dalam asi sangat dibutuhkan anak. Dan, itu tidak bisa tergantikan oleh susu formula,” kata dia. 
 
Untuk menjamin adanya asupan gizi yang cukup pada 1000 hpk, sambung kepala Dinas Kesehatan Kuningan, dr Hj Susi Lusiyanti, perlu didukung oleh adanya upaya penguatan pangan keluarga. Proses edukasi dapat mencegah ketergantungan bantuan dan mendorong inisiatif masyarakat untuk berdaya dan mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan keluarga dengan usahanya.
 
“Ketahanan pangan maupun gizi sangat berkorelasi dengan akses masyarakat terhadap pangan. Masyarakat perlu di edukasi dan didekatkan dengan jenis-jenis pangan yang dapat disediakan secara mandiri. Ini supaya mengurangi beban biaya belanja dapur dan bantuan sosial,” ucap Kadinkes.(Dema)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan H.Ten No.47
Rawasari Jakarta Timur 13220  Jakarta Pusat
Telp. /Fax: 021 - 99999999