14 Mei 2020 | Dilihat: 933 Kali
Bendera Merah Putih Sobek Berkibar Di Puskesmas Simpang Teritip
noeh21

Bendera Merah Putih Sobek Berkibar Di Puskesmas Simpang Teritip

Bangka Barat | www.mapikor-news.com

Saat ini bangsa kita sedang menghadapi wabah pandemi Covid 19 sehingga seluruh elemen masyarakat bahu membahu bersama pemerintah untuk bersatu melawan pandemi Covid 19 dengan melaksanakan protap kesehatan yang menjadi standar untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Corona Covid 19.

Namun sebaliknya jangan hanya gara-gara pandemi Covid 19 kita sebagai warga Indonesia menyepelekan atau tidak memperhatikan hal-hal yang terkecil padahal itu sangat fatal bagi kita sebagai warga negara Indonesia  yang tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi simbol negara seperti bendera merah putih tidak kita perhatikan keberadaannya.

Tadi sore, pukul 14.30 wib Jurnalis Babel saat akan melakukan tugas liputan ke Mentok Kabupaten Bangka Barat tanpa sengaja melihat bendera merah putih kita berkibar ditiang bendera Puskesmas Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat yang berkibar dalam keadaan sobek dan tidak layak untuk digunakan atau dikibarkan.
 

Sungguh miris masih ada pejabat publik di Puskesmas Simpang Teritip yang menyepelekan hal ini, padahal para pendahulu bangsa atau pahlawan kita mengorbankan nyawa hanya sekedar  untuk mengibarkan sang saka merah putih.

Persoalan simbol negara ini tidak bisa kita anggap sepele karena ada sanksi pidana yang sudah dalam undang-undangnya. Aturan tersebut termuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Pada Pasal 24 Undang-Undang tersebut, diatur soal apa saja yang dilarang dilakukan terhadap Bendera Negara.

Setiap orang dilarang:
a. merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara;

b. memakai Bendera Negara untuk reklame atau iklan komersial;

c. mengibarkan Bendera Negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam;

d. mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara; dan

e. memakai Bendera Negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan Bendera Negara.

Aturan sanksi pidana terhadap mereka yang melanggar hal tersebut di atas juga tegas diatur dalam Undang-Undang itu.

Pasal 66
Setiap orang yang merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 67
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Sementara itu, Kepala Puskesmas Simpang Teritip Sahadi saat dihubungi Jurnalis Babel mengaku tidak mengetahui bahwa bendera yang dikibarkan oleh staf sudah rusak dan dirinya memohon atas kelalaian yang telah dilakukannya.

Dan pihaknya berjanji kepada Jurnalis Babel akan segera menggantinya dengan yang baru.

" Kami meminta maaf atas kelalaian yang telah kami lakukan, dan segera akan kami gantikan dengan yang baru, dan Terimakasih kepada wartawan yang sudah mengingatkan kami, semoga kedepannya kejadian seperti kami terjadi di tempat yang lain, sekali lagi kami mohon maaf," Pungkas Sahadi saat dihubungi melalui ponselnya, Kamis,(14/05/2020). --- (Rikky Fermana)

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan H.Ten No.47
Rawasari Jakarta Timur 13220  Jakarta Pusat
Telp. /Fax: 021 - 99999999