Home » Headline » KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT KONDISI PENYAJIANLAPORAN KEUANGAN DAN SELISIH (PENYIMPANGAN) LAPORAN KEUANGAN

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT KONDISI PENYAJIANLAPORAN KEUANGAN DAN SELISIH (PENYIMPANGAN) LAPORAN KEUANGAN

141 views

Jakarta | www.mapikor-news.com — Laporan Keuangan Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2018, penyajian laporan keuangan belum informative sebagaimana laporan keuangan yang seharusnya.

Informasi Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2018 yang dipublikasikan kepublik tidak informative hal ini dikarenakan Penjelasan (Catatan) Laporan Keuangan hanya sampai pada Penjelasan (Catatan) Realisasi Anggaran Belanja Modal BLU, sedangkan untuk Penjelasan (Catatan) Neraca dan Laporan Operasional Tidak disajikan, hal ini berbeda dengan Penjelasan (Catatan) Laporan Keuangan TA 2019 yang lebih lengkap bila dibandingkan dengan Laporan Keuangan TA 2018.

Selisih/Penyimpangan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2018 adalah sebesar Rp. 2.041.415.960.916,- selisih tersebut dikarenakan dalam menerapkan perhitungan:

  1. Penyajian Akumulasi Penyusutan tidak sesuai dengan yang seharusnya dan apabila Akumulasi Penyusutan diterapkan sesuai dengan yang seharusnya, maka Neraca menjadi tidak Balance antara Total Aset dengan Total Kewajiban + Ekuitas, dengan demikian Penerapan Metode Akumulasi Penyusutan yang disajikan (diterapkan) oleh Kementerian PUPR terindikasikan (diduga) untuk menutupi Kebocoran atau diduga (terindikasikan) untuk menutupi korupsi yang terjadi pada Tahun Anggaran 2018.

Penerapan Metode Akumulasi Penyusutan yang diterapkan oleh Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2018 adalah :

Beban Penyusutan Aset Tetap Dan Aset Lain-Lain adalah sebesar Rp. 66.020.703.007.922,-

Aset Tetap

Saldo Awal Akumulasi Penyusutan (31 Desember 2017) Rp. 252.922.933.562.475,-

Saldo Akhir Akumulasi 31 Desember 2018 Rp. 291.448.704.342.706,-

Beban Penyusutan Berdasarkan Mutasi Akumulasi Rp. 38.525.770.780.231,-

Aset Lain-Lain

Saldo Awal Akumulasi Penyusutan (31 Desember 2017)  Rp.   7.105.469.643.541,-

Saldo Akhir Akumulasi 31 Desember 2018 Rp. 32.558.708.987.531,-

Beban Penyusutan Berdasarkan Mutasi Akumulasi Rp. 25.453.239.343.990,-

Beban Penyusutan Berdasarkan Mutasi Akumulasi Penyusutan adalah :

Aset Tetap Rp. 38.525.770.780.231,-

Aset Lain-Lain Rp. 25.453.239.343.990,-

Jumlah Rp. 63.979.010.124.221,-

Beban Penyusutan Pada Laporan Operasional  Rp. 66.020.703.007.992,-

Selisih Beban Penyusutan (L- O Lebih Besar Dari Mutasi Akumulasi) Rp. 2.041.692.883.701,-

  • Demikian juga untuk perhitungan penyisihan kerugian penurunan nilai terdapat selisih Minus (Rp. 276.992.785,-), selisih Minus dikarenakan Jumlah (Kumulatif) biaya penyisihan lebih besar dari pada Biaya yang dibebankan pada Laporan Operasional.

Adapun perhitungan Jumlah Biaya Penyisihan berdasarkan Mutasi Cadangan Penyisihan Penurunan Nilai yang disajikan di Neraca adalah :

  1. Mutasi Penyisihan Piutang Bukan Pajak

Saldo Akhir Rp. 34.881.416.800,-

Saldo Awal Rp. 33.768.081.146,-

Kenaikan Biaya Penyisihan Rp. 1.113.335.654,-

  • Mutasi Penyisihan Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran

Saldo Akhir Rp. 43.956.217,-

Saldo Awal Rp. 39.121.140,-

Kenaikan Biaya Penyisihan Rp. 4.835.077,-

  • Mutasi Penyisihan Bagian Lancar TP/TGR

Saldo Akhir Rp. 940.110,-

Saldo Awal Rp. 595.923,-

Kenaikan Biaya Penyisihan Rp. 344.187,-

  • Mutasi Penyisihan Piutang Dari Kegiatan Operasional BLU

Saldo Akhir Rp. 1.319.436.302.466,-

Saldo Awal Rp. 1.023.971.470.822,-

Kenaikan Biaya Penyisihan Rp. 295.464.831.644,-

Surat Meminta Klarifikasi meminta konfirmasi dari Media Mapikor
  • Mutasi Penyisihan Piutang Tagihan Penjualan Angsuran

Saldo Akhir Rp. 478.274.122,-

Saldo Awal Rp. 523.867.343,-

Penurunan Biaya Penyisihan (Rp. 45.593.221,-) hal ini dikarenakan Saldo Awal Lebih Besar Dari Saldo Akhir, sehingga beban penyisihan sebagai pengurang biaya tidak ada.

  • Mutasi Penyisihan Piutang Tagihan TP/TGR

Saldo Akhir Rp. 235.775.566,-

Saldo Awal Rp. 287.925.030,-

Penurunan Biaya Penyisihan (Rp. 52.149.464,-) hal ini dikarenakan Saldo Awal Lebih Besar Dari Saldo Akhir, sehingga beban penyisihan sebagai pengurang biaya tidak ada.

  • Mutasi Penyisihan Piutang TP/TGR BLU

Saldo Akhir Rp. 638.417,-

Saldo Awal Rp.   0,-

Kenaikan Biaya Penyisihan Rp. 638.417,-

Berdasarkan Perhitungan dari Penyajian Cadangan Penyisihan tersebut diatas, di peroleh hasil :

  1. Kenaikan Cadangan Penyisihan Piutang Bukan Pajak    Rp.1.113.335.654,-
  2. Kenaikan Cadangan Penyisihan Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Rp.4.835.077,-
  3. Kenaikan Cadangan Penyisihan Bagian Lancar TP/TGR Rp.344.187,-
  4. Kenaikan Cadangan Penyisihan Piutang Dari Kegiatan Operasional BLUR p. 295.464.831.644,-
  5. Penurunan Cadangan Penyisihan Piutang Tagihan Penjualan Angsuran (Rp. 45.593.221,-)
  6. Penurunan Cadangan Penyisihan Piutang Tagihan TP/TGR (Rp.52.149.464,-)
  7. Kenaikan Cadangan Penyisihan Piutang TP/TGR BLU  Rp. 638.417
Surat konfirmasi dari Kementerian PUPR

Rekap :

Jumlah Kenaikan Cadangan Penyisihan Piutang Rp. 296.583.984.979,-

Jumlah Penurunan Cadangan Penyisihan Piutang (Rp. 97.742.685,-)

Kenaikan Bersih Cadangan Penurunan Nilai Atau Beban Penyisihan Seharusnya Rp. 296.486.242.294,-

Beban Penyisihan Piutang Pada Laporan Operasional Rp. 296.209.319.509,-

Selisih (Perhitungan Mutasi Cadangan Penyisihan Piutang Lebih Besar dari L-O (Rp. 276.922.785,-)

Apabila pada Perhitungan Beban Penyusutan diperoleh bahwa Beban Penyusutan Pada Laporan Operasional Lebih Besar dari pada Mutasi Akumulasi Penyusutan yang disajikan di Neraca yaitu sebesar Rp. 2.041.692.883.701,-sedangkan pada Beban Penyisihan Piutang diperoleh bahwa Beban Penyisihan Pada Laporan Operasional Lebih Kecil dari pada Mutasi Cadangan Penyisihan Piutang sebesar (Rp.276.922.785,-), maka Nilai Bersih selisih yang terjadi pada Laporan Keuangan TA 2018 adalah sebesar Rp. 2,041,415,960,916 yaitu dari :

Beban Penyusutan LO Lebih Besar dari Mutasi Akumulasi Penyusutan Rp. 2.041.692.883.701,-

Beban Penyisihan LO Lebih Kecil dari Mutasi Cadangan Penyisihan  (Rp.          276.922.785,-)

Selisih (Penyimpangan) Laporan Keuangan Rp. 2.041.415.960.916,-

Dengan terjadinya Selisih tersebut, mengindikasikan bahwa Nilai Buku Aset Tetap dan Aset Lain-Lain menjadi Naik sebesar Rp. 2.041.692.883.701,- dan Nilai Bersih Piutang menjadi turun sebesar Rp.276.922.785,- dari yang seharusnya.

Dengan demikian apabila Nilai Buku Aset Tetap dan Aset Lain-Lain serta Nilai Bersih Piutang disajikan berdasarkan Beban Biaya Pada Laporan Operasional maka Neraca Menjadi Tidak Balance, yaitu Total Aset Lebih Kecil sebesar Rp. 2.041.415.960.916,- dibandingkan dengan Total Kewajiban + Ekuitas. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *