Masalah Guru Honorer Di Maluku Harus Bisa Di Tuntaskan

0
42

Masalah Guru Honorer Di Maluku Harus Bisa Dituntaskan

“Gubernur Maluku saat membacakan sambutan Menteri Pendidikan Nasional Nadine pada upacara Hari Guru Nasional yang dipusatkan di Alun Alun Bupolo, Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku” Senin, 2 Desember 2019

 

Namlea | mapikor-news.com – Maluku disebut masih banyak memerlukan tanaga guru untuk mengisi kekosongan yang ada di daerah ini. Bahkan kekuarangn itu mencapai ratusan ribu tenaga.  Ironisnya, sesuai data yang dimiliki, masih banyak guru yang berstatus sebagai honorer  bahkan ada yang mengabdi selama 18 tahun.

Menyikapi hal ini, Gubernur Maluku Drs. Murad Ismail dihadapan para guru dan sejumlah wartawan mengatakan, masalah guru honorer dan kekuarangan guru ini harus bisa dituntaskan.

“Jadi harus jemput bola. Guru -guru honor di Maluku ini sudah sangat banyak dan ada yang sudah 18 tahun belum diangkat sebagai PNS. Ini perlu kita selesaikan segera, biar mereka ada kepastian hidup. Mereka punya masa depan juga bisa aman,” ungkap Gubernur Maluku usai memimpin upacara Hari Guru Nasional yang dipusatkan di Alun Alun Bupolo, Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, Senin (2/12/2019).

Gubernur mengaku, belum mau menyebut berapa kuota yang dibutuhkan di Maluku dan berapa guru honorer yang masih belum diangkat. Ia memilih terlebih dahulu melobi pemerintah pusat melalui Menpan RI, Cahyo Kumolo dan Mendiknas Nadine di Jakarta.

Kata Murad, tugasnya sebagai  gubernur itu ada 2 plus 1. Pertama sebagai gubernur dirinya harus mampu mengentaskan kemiskinan. Kedua harus mampu mensejahterakan masyarakat, termasuk guru.

Gubernur Maluku Murad Ismail disampingi Bunda FAUD Maluku Ny.Widya Murad Ismail pada upacara Hari Guru Nasional

Plus 1, lanjut gubernur, adalah seorang kepala daerah (gubernur, bupati dan walikota) harus mampu memetakan dan menjaga sumberdaya alam, agar dapat dimanfaatkan  sebaik-baiknya oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

Pada upacara Hari Guru Nasional ini, gubernur juga membacakan sambutan tertulis Mendiknas, Nadine yang lagi  viral di dumay saat disampaikan pada puncak acara tanggal 25 Nopember lalu.

Peringatan Hari Guru Nasional di Maluku yang baru terlaksana hari ini,  diikuti  para kepala sekolah se-Maluku.  Turut hadir Ketua DPRD Maluku, Lucky Watimuri, Wakil Ketua DPRD Maluku,Azis Sangkala, anggota dewan asal dapil Pulau Buru, Aziz Hentihu dan Kadis Pendidikan Maluku,Saleh Thio.

Selain itu, hadir pula Bunda Paud Maluku, Ny.Widya Murad Ismail dan Bunda Paud Kabupaten Buru, By Sukmawati Umasugi. Sementara dari Pemkab Buru, turut hadir Wakil Bupati Buru Amos Besan dan sejumlah pimpinan OPD. Bupati Ramly Umasugi dan Ketua DPRD Buru, Rum Soplestunny berhalangan hadir karena sedang berada di luar daerah.

Mengutip sambutan tertulis Mendiknas Nadine, gubernur di hadapan ribuan guru yang hadir di alun alun Bupolo, menegaskan tugas guru adalah yang termulia sekaligus yang tersulit.

Guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolangan. Guru ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu guru habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Guru tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

Menurut Mendiknas, guru ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

Guru frustrasi karena guru tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.

Guru tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagamaan sebagai prinsip dasar birokrasi. Guru ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

“Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berberjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia,”janji Nadine dalam sambutan tertulisnya itu.

Namun, akui Mendiknas, kalau  perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah.

Ambillah langkah pertama. Besok, di mana pun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda.Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas.Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.

Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan. Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.(NB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here